Satya Winnie: Berani Bermimpi adalah Bentuk Pencapaian Diri

Jika berani bermimpi, kebahagiaan pun datang dengan sendirinya!

Mungkin masih banyak yang berpikir kalau traveling bukanlah sebuah profesi, melainkan hobi yang bisa dikesampingkan kapan saja. Hal ini tidak berlaku bagi Satya Winnie, travel blogger yang ternyata punya kisah seru di balik keputusannya jalan-jalan keliling dunia. Tahukah kamu, Satya ternyata ‘banting setir’ dari karyawan yang sudah settled di digital agency menjadi seorang petualang. Sebuah keputusan berani demi mewujudkan impian masa kecilnya.

Namun, keinginannya mewujudkan mimpi tak langsung berjalan sukses. Ada banyak tantangan di baliknya, mulai dari masalah finansial, penolakan keras dari orang tuanya, hingga perjuangannya melawan stigma sosial. Kisah inspiratifnya ini kebetulan juga pas banget dengan tema International Women’s Day 2022, #BreakTheBias, yang mengusung perjuangan perempuan untuk lepas dari diskriminasi dan stereotype.

Yuk, simak obrolan All Things Hair dengan Satya mengenai caranya menghadapi segala tantangan, cerita seru selama menjadi travel blogger, hingga tips agar rambut tetap sehat dan kece meski sering panas-panasan!

Mengejar Impian Keliling Dunia.

Hampir semua orang suka jalan-jalan, tapi tak semua orang memilih jalan hidup sebagai travel blogger. Percaya atau tidak, ketertarikan Satya dengan traveling sebenarnya berawal dari… buku!

“Bisa dikatakan, buku-buku adalah trigger terbesar yang membuat aku ingin berkelana. Dari kecil ketika membaca buku, rasa ingin tahuku terhadap dunia luar semakin besar. Aku ingin merasakan sendiri hal-hal yang aku baca secara langsung. Aku ingin pergi jauh menjelajah untuk tahu apakah yang aku baca di buku itu benar. Itu masih aku lakukan sampai sekarang, membaca dan menjelajah.”

“Aku ingin mencoba menjadi burung dengan terbang solo, menjadi ikan dengan menyelam, mendaki gunung dan semuanya. Full crazy experiences! Selaras dengan motto hidupku dari dulu ‘Let’s live with no regrets’,” katanya.

satya winnie sedang melakukan paragliding
(Foto: Satya Winnie)

Dorongan dan mimpi untuk menjelajah dunia itu sudah ada sejak remaja. Bahkan Satya mengambil jurusan Pariwisata di perkuliahan. Nah, keinginan terpendam ini tak lagi dapat dibendung dan ia memutuskan untuk mengikuti mimpinya.

Saat itu, Satya sudah memiliki pekerjaan tetap yang akan menjamin hidupnya di masa depan. Ia pun menyiapkan rencana matang sejak setahun sebelum resign. Satya tahu kalau pilihan menjadi freelancer atau pekerja lepas ini akan menguras budget dan butuh modal besar.

“Aku keluar dari kantor bukan karena muak dengan pekerjaan. Aku sangat menyukai pekerjaan kantorku saat itu dan pertemanan di dalamnya hingga berat untuk melepaskan. Tapi aku memang sudah bertekad kuat untuk mengejar impianku menjelajah dunia dan itu tidak akan bisa tercapai sesuai yang aku mau jika masih terikat pekerjaan kantor karena terhalang cuti yang terbatas,” jelasnya.

Kesulitan Finansial dan Penolakan Orang Tua.

Meski terdengar menyenangkan, ternyata semua rencana tak berjalan semulus yang dikira. Kesulitan terbesar di awal beralih profesi adalah masalah finansial.

“Saat memutuskan untuk resign, aku sudah punya tabungan. Nah, 3 bulan setelah resign, aku mengalami kecelakaan dan biaya operasi patah tangan itu menguras semua tabungan. Apa yang aku impikan tentang bertualang setahun penuh tanpa harus bekerja sirnalah sudah. Ditambah tidak mampu untuk beraktivitas seperti biasa selama 3 bulan karena tangan masih belum bisa dipakai, padahal biasanya aktif berkegiatan di mana-mana. It kills me!

Sudah patah tangan dan kehabisan tabungan, Satya juga mengalami kesulitan lainnya. Orang tuanya sangat menolak keras keputusannya untuk mewujudkan mimpi menjadi traveler. “Setiap orang tua pasti menginginkan hidup anaknya bisa terjamin. Mereka tidak senang dengan pilihanku dan menganggap itu pekerjaan ‘main-main’ karena masa depannya tidak jelas.”

Stereotype terhadap perempuan dan karier pun semakin mempersulit Satya. Masih banyak (bahkan termasuk wanita sekalipun) yang menganggap bahwa ‘perempuan harus begini dan laki-laki harus begitu’.

“Aku merasa pandangan ini harus segera diubah. Dari kecil pun aku selalu menentang stigma tersebut dan selalu bertanya ‘kenapa laki-laki boleh dan perempuan tidak?’ dan kerap kecewa dengan jawaban yang diberikan ‘memang sudah kodratnya begitu, sudah seperti itu dari dulu, jangan membantah’. Aku ingin tunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki bisa setara.”

“Mungkin hal ini tidak langsung bisa membuat orang paham tentang konsep kesetaraan gender, tetapi setidaknya mereka mulai aware, mulai mengenali. Aku berharap mereka akan mengerti bahwa setara itu penting. Perempuan diberikan kesempatan yang sama dalam hidup itu penting.”

Ketika berhadapan dengan berbagai masalah sekaligus saat baru mulai mengejar mimpi, Satya menghadapinya dengan melakukan hal yang bisa dibilang sederhana: menerima keadaan.

Acceptance adalah sesuatu yang berat sekali. Kehilangan pendapatan tetap, tabungan habis, tangan kanan patah, rasanya aku ada di titik nol. Suram. Syukurlah, hal itu sudah lewat dan sekarang kondisinya sudah sangat berbeda, I am very happy now.”

“Aku juga tunjukkan keseriusanku menjadi traveler dan betapa aku bahagia menjalani profesi ini. Dulu, pembuktian ini penting untuk meyakinkan orang tua dan keluarga pada awalnya. Aku tidak menyangka akhirnya pembuktian diri yang aku tunjukkan di social media membuat banyak yang mengikuti jejakku dan terbersit rasa bahagia ketika tahu mereka pun (rata-rata perempuan) bahagia dengan pilihan hidupnya.”

“Namun, pada akhirnya aku sadar, tidak perlu pembuktian diri dan pengakuan publik selama kita bahagia dengan jalan hidup kita. Terkenal atau tidak terkenal, tidak akan membuat nilai dari diri kita berkurang ketika melakukan hal yang kita sukai dan akan lebih menyenangkan jika apa yang kita lakukan itu bisa berguna dan memberi makna pada sesama.”

Sejak menerima keadaan dan mengubah pandangan, mama Satya pun sekarang sangat suportif dan bangga. “Dia bilang anaknya berani untuk berbeda, hahahaha…”

Cerita Manis Saat Traveling.

Sejauh ini, Satya sudah berkeliling Indonesia dan menjelajah 33 negara di dunia. Ia berharap masih bisa diberi kesempatan untuk terus bertualang. Negara-negara yang jadi impiannya adalah negara dengan lanskap panorama gunung dan lautan yang megah, yang bisa bikin Satya puas untuk menjelajahi.

satya winnie dengan latar alam di banda neira
(Foto: Satya Winnie)

“Untuk Indonesia, lokasi yang paling berkesan buatku selalu Banda Neira di Maluku. Hatiku tertinggal di sana karena bisa mendaki gunung api, menyelami keindahan dunia bawah laut, belajar sejarah dan budaya juga. Pulaunya kecil namun cantik sekali. Aku sampai tidak bisa mendeskripsikan keindahannya.”

“Untuk luar negeri, sampai saat ini aku masih terkenang keindahan Norwegia, negara yang sudah sangat dekat dengan Kutub Utara. Aku sengaja pergi ke sana untuk pergi mendaki gunung saat musim panas dan menikmati view pegunungan salju, ‘fjord’, dan matahari yang selama 24 jam bersinar terang. Aneh dan unik rasanya tidak melihat hari menjadi gelap, hahaha. Pengalaman yang berkesan bisa melihat sudut lain dari planet bumi ini dan pastinya tak akan terlupa.”

Semua perjalanan ke berbagai tempat ini menjadi chapter dalam buku kehidupan Satya. Berawal dari mimpi, ia kini semakin jatuh cinta dengan traveling dan memutuskan untuk terus berkomitmen menjadi travel blogger.

“Momen yang bikin aku jatuh cinta dengan traveling mungkin saat aku pergi ke tempat baru dan belajar sesuatu yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Lima indraku sangat bahagia jika ada di tempat baru. Bisa melihat, mencium, menyentuh, mendengar, merasakan semuanya itu bikin aku merasa ‘penuh’ dan utuh jadi manusia.”

“Aku juga sangat senang bercerita dan mendengarkan cerita dari orang lain. Jadi semakin tertantang untuk pergi ke tempat lebih jauh untuk melihat atau berjumpa dengan orang-orang yang ada di sana.”

Traveling Bukan Cuma Senang-Senang Saja.

Banyak orang yang memanfaatkan traveling sebagai ajang refreshing saja. Nah, bagaimana dengan Satya? “Tentu aku setuju kalau jalan-jalan itu momen untuk refreshing. Kadang tidak apa-apa lho kalau kita pergi berlibur hanya untuk bersantai, berjemur, makan enak, melupakan kepenatan hidup sejenak. Tidak ada yang salah dengan itu.”

“Namun, sedari kecil aku memang selalu ingin bertanya ini dan itu. Dorongan untuk bertanya pada siapa pun, tentang apa pun, ketika sedang bepergian itu tidak tertahankan. Lalu, ketika aku menceritakan perjalananku itu kepada orang lain dan mereka mendengarkan atau membaca tulisanku, aku senang sekali dan bikin aku punya tujuan buat traveling lebih jauh, yakni menjadi pengelana dan pencerita. Esensi dari traveling buatku ya itu, mengumpulkan cerita hidup, memperkaya diri bukan pakai materi tetapi pakai pengalaman perjalanan.”

Saat mengejar mimpinya ini, Satya tentu belajar dari segala kesulitan yang ia pernah hadapi di awal beralih profesi. Ternyata, selain itu, traveling juga mengajarkan banyak hal, bukan hanya pemuas keinginan.

satya winnie di gunung rinjani
(Foto: Satya Winnie)

“Aku belajar rendah hati. Itu adalah pelajaran yang paling susah menurutku. Ketika punya kesempatan untuk menjelajah banyak tempat di dunia ini, kamu juga diuji. Akankah kamu menjadi manusia yang rendah hati atau menjadi tinggi hati?”

“Kerap terjadi, orang yang bepergian ke banyak tempat atau negara menjadi tinggi hati dan merasa dirinya lebih baik dan keren dari manusia yang lain. Padahal ketika kita bisa pergi ke penjuru dunia, kita disadarkan bahwa kita ini hanya manusia kecil di antara miliaran makhluk bumi. Layaknya padi, semakin berisi dengan pengalaman perjalanan, seharusnya membuat kita semakin merunduk dan memperluas perspektif kita tentang hidup agar bisa menghargai perbedaan hidup tiap manusia di dunia.”

“Perempuan Indonesia itu Kuat.”

Dari seluruh perjalanan keliling Indonesia, Satya melihat nilai menarik dari komunitas atau masyarakat yang mencerminkan sosok perempuan Indonesia.

“Mereka adalah perempuan kuat fisik dan mental, tahan banting! Perempuan yang aku temui di pelosok selalu punya peran ganda dalam kehidupannya. Mereka mengurus rumah tangga secara penuh dan juga bekerja di ladang atau mengerjakan pekerjaan lainnya. Semua itu mereka lakukan agar ada makanan yang terhidang meja dan anak terus bisa sekolah.”

satya wiinnie di timor
(Foto: Satya Winnie)

“Tidak jarang aku bertemu dengan wanita yang menceritakan cerita hidupnya harus menjalani peran sebagai ibu rumah tangga namun berharap jika ada kesempatan, ingin sekolah lebih tinggi, ingin mencari pekerjaan yang bisa memberikan pendapatan lebih baik, dan lainnya.”

“Mereka tidak bisa mencapai mimpi itu karena tidak pernah diberikan kesempatan dan terbentur dengan stigma ‘perempuan sekolah tinggi juga akan berakhir di kasur dan dapur’. Aku berharap beberapa tahun yang akan datang, kondisi itu akan berubah dan perempuan punya kesempatan hidup yang lebih baik.”

Satya dan Perawatan Rambut dengan Cinta.

Selain mengagumi foto-foto traveling dan kisahnya yang menyenangkan, ada 1 hal lagi yang membuat kami salfok: rambutnya yang panjang dan berkilau. Pertanyaan yang muncul di benak kami adalah “Sering panas-panasan dan aktivitasnya banyak di luar ruangan, tapi kenapa rambutnya bisa bagus?”

satya winnie di bali dengan baju adat
(Foto: Satya Winnie)

“Dirawat pakai cinta, hahaha! Aku selalu merasa rambut itu bagian penting yang juga akan membuat impresi baik ketika bertemu dengan orang lain. Meski sering beraktivitas di luar ruangan dan di bawah matahari, aku rawat rambutku sebaik-baiknya. Aku pakai shampoo Sunsilk Black Shine dari kecil, karena gampang ditemukan di mana saja dan bikin rambutku halus dan wangi. Aku juga rajin pakai hair vitamin setiap habis keramas dan hair mask atau hair spa tiap 2 minggu sekali.”

Kalau melihat Satya yang sekarang, ia lebih sering terlihat dengan rambut hitam panjang berkilau. Padahal nih, Satya dulu gemar bereksperimen dengan rambut. Mulai dari pixie, bob, highlight, hingga ombre warna-warni, semua pernah dicoba. Kini, ia lebih senang punya rambut panjang hitam lurus alami!

Untuk perawatan rambutnya, kamu juga bisa menggunakan Sunsilk Black Shine Activ-Infusion Shampoo seperti Satya. Dengan formula baru Activ-Infusion, Sunsilk hitam ini kini lebih kaya nutrisi.

Ada Urang Aring + Oil yang dikenal mampu menutrisi, menguatkan, dan meningkatkan kilau hitam alami rambut. Untuk melembapkan dan menguatkan rambut, shampoo ini dilengkapi dengan Collagen.

Shampoo ini juga punya kandungan Jeruk Nipis dengan Vitamin C, yang dikenal mampu menyegarkan dan melembutkan rambut. Bagusnya lagi, Sunsilk Black Shine Activ-Infusion Shampoo juga bekerja untuk berbagai jenis rambut perempuan Indonesia—lurus, ikal, maupun keriting!

Nah, kalau kamu juga hobi jalan-jalan, Satya juga punya beberapa tips untuk perawatan rambut yang ringkas dan tidak ribet. “Bawa vitamin rambut dan pakai setiap habis keramas. Terutama kalau habis dari laut, agar rambut kamu tetap lembap dan nggak kering ujungnya. Aku juga kadang bawa bedak bayi tabur jika harus berada di hutan selama beberapa hari tanpa keramas (aku pernah 2 minggu mendaki gunung, hahaha) agar tidak lepek dan mengeluarkan aroma tidak sedap.”

“Bawa juga sisir bergigi jarang yang tidak bikin rambut rontok dan bawa hair mist spray untuk disemprot agar rambut selalu wangi meski habis berjemur di bawah matahari. Bisa juga bawa aksesori seperti topi dan bandana agar rambut lebih mudah ditata dan tentunya lebih cantik untuk berfoto, hahaha…”

Selain merawat rambut dengan cinta, merawat diri juga perlu rasa sayang yang besar. Membahagiakan diri sendiri versi Satya adalah dengan mewujudkan mimpnya dan tidak terlalu memikirkan perkataan negatif orang lain terhadap diri kita.

“Aku tahu itu mudah diucapkan tapi susah dilakukan. Semakin bertambah umur, aku semakin sadar bahwa kalimat itu benar adanya. Saat kita nggak mendengarkan itu, semakin kita bisa lebih santai dan lepas menjalani hidup. Tapi, aku tetap masih dan harus mau mendengarkan kritik dan masukan dari orang-orang yang ingin aku terus bertumbuh, jadi ya nggak semuanya negatif kok. Kita tetap butuh kritik dari orang lain untuk jadi pribadi yang baik dan bahagia.”

“Oh, jangan lupa juga untuk selalu melakukan hal sederhana yang menurut kalian membawa kebahagiaan, contoh buatku adalah membeli dan membaca buku. Hehehe…”

“Buat Rencana dan Jalankan!”

Mengakhiri obrolan dengan Satya, kami juga ingin tahu rencana berikutnya karena mimpinya sudah tercapai bukan?

“Aku masih punya banyak mimpi. Impian terbesarku saat ini ingin upgrade skill terkait pekerjaanku sekarang. Ada banyak yang ingin aku kejar, ingin jadi Paragliding Tandem Pilot, ingin jadi Dive Instructor, ingin bikin pameran fotografi sendiri, ingin buat film dokumenter tentang kelompok adat di Indonesia. Belum lagi impian untuk bisa hidup berpindah-pindah keliling dunia. Duh ternyata masih banyak banget ya, hahahaha…”

Apa saran Satya untuk perempuan muda Indonesia yang ingin punya keberanian mewujudkan mimpinya?

Make a plan! Buat rencana yang matang tentang apa yang ingin kamu impikan dan tulis rencana-rencana yang ingin kamu lakukan untuk mencapainya. Kamu harus punya beberapa plan dan strategi juga karena apa yang kamu rencanakan nggak akan melulu tercapai dengan mudah. Tetap butuh kerja keras, kedisiplinan, konsistensi untuk melakukan semua itu.”

“Satu lagi, jangan mudah menyerah. Saat terasa sangat lelah melakukan itu semua, beristirahatlah sejenak dan setelahnya mari kita kejar lagi ya mimpinya. Terlalu ambisius juga nggak sehat lho, hehehe…”

Untuk mendorong perempuan Indonesia berani bermimpi, perjalanan Satya juga menjadi salah satu kisah inspiratif dalam kampanye Sunsilk #TakTerhentikanTukBerkilau.

Kamu bisa mulai langkah pertama dengan tuliskan mimpimu di website ini dan ikuti beragam kelas pengembangan diri GRATIS dari Sunsilk dan Skill Academy. Mulai dari kelas merencanakan mimpi, mahir berkomunikasi, mengenali potensi diri hingga voucher Rp100.000 untuk akses kelas apa pun di Skill Academy.

Siap mewujudkan mimpi seperti Satya Winnie?

Artikel Sebelumnya
Artikel Berikutnya
Hair Quiz