Ngobrolin Kemerdekaan Hingga Rambut Dari Kacamata Perempuan Bersama Para Editor!

Tidak jarang kemerdekaan cuma dirayakan sebagai simbol, padahal maknanya lebih dari itu. Kemerdekaan sendiri bukan sebatas tujuan, melainkan awal yang baru dimana semua kesempatan terbuka lebar untuk mewujudkan mimpi, hidup sebaik-baiknya, membuka potensi diri seluas-luasnya.

Tapi apakah ini sudah berlaku untuk semua warga negara Indonesia? Setelah 75 tahun Indonesia udah merdeka dan terbebas dari segala kungkungan, apakah kamu sebagai perempuan sudah merasa merdeka sepenuhnya? Perempuan-perempuan hebat di balik All Things Hair berkesempatan untuk berbincang mengenai kemerdekaan di mata mereka. Yuk kenalan dengan Nadya, Silmia, Stephanie, dan Yunisa!

Arti Kemerdekaan: Lepas dari Stigma, Bebas Berkreasi dan Berekspresi.

Meskipun kemerdekaan identik dengan lepasnya belenggu dari penjajahan, kemerdekaan punya artian yang cukup unik jika dilihat dari sudut pandang wanita modern.

“Kalau sekarang, kemerdekaan lebih aku asosiasikan dengan kebebasan. Bebas menentukan pilihan dan bebas dari stigma yang menempel pada peran tertentu.”, jawab Nadya.

Nadya editor all things hair dengan warna pirang berbicara kemerdekaan
Nadya, managing editor All Things Hair. (Foto: Pribadi)

Silmia menjawab kalau kemerdekaan untuknya adalah bisa bebas berkreasi, berekspresi, tanpa harus takut dengan opini ataupun komentar orang lain. “Di era media sosial ini, tak sedikit orang yang makin pintar menghakimi. Ada yang suka berkreasi dengan make up, disebut narsis. Ada yang lebih suka tampil natural, disebut nggak ngurus diri. Ada yang tidak peduli dengan komentar lain, disebut egois. Sedihnya, komentar menjatuhkan itu, justru hadir di antara sesama wanita.”, tambahnya.

Silmia editor all things hair berbicara kemerdekaan
Silmia, Editor All Things Hair. (Foto: Pribadi)

Stephanie juga menambahkan bahwa merdeka artinya punya kebebasan yang bertanggung jawab. “Kita bebas mengambil keputusan dan melakukan apapun yang aku suka, selama terasa nyaman di hati. Dan yang terpenting, kemerdekaan kita tidak mengganggu atau merugikan orang lain!”

Hal ini diiyakan oleh Yunisa, yang merasa bahwa kemerdekaan itu artinya kita merasa aman untuk bebas berpendapat dan berbuat, terlepas apapun suku, agama, jenis kelamin, dan ras kita. “Menurutku sekarang kita masih perlu merdeka dari ketidaktahuan, ignorance, merdeka dari kebodohan dan sikap diskriminatif terhadap suatu gender.”, tambahnya.

Tantangan Terbesar: Persepsi Terhadap Diri Sendiri Vs Pendapat Orang Lain.

Nah, tantangan-tantangan yang menghalangi kita dari merasa merdeka secara utuh ternyata bersumber dari diri sendiri dan juga orang lain. Terlalu mendengarkan pendapat pendapat orang lain bisa ‘membelenggu kamu’ untuk merasa merdeka seutuhnya.

“Nggak usah jauh-jauh, tiap hari kita mungkin menerima komentar (bukan saran, ya) yang sifatnya ‘mengatur’ pilihan atau penampilan kita. Contohnya, ketika aku bleaching rambut dan berencana mengisi warnanya dengan ash grey, ada satu komentar yang nggak banget dari teman kerja. “Ih, aku sih nggak suka ya warna seperti itu.”, bagi Nadya.

Tantangan untuk merasa aman jadi diri sendiri juga masih dialami oleh Yunisa. “Aku suka banget olahraga dan sedang mulai lari jarak jauh. Persiapanku benar-benar matang, mulai dari menggunakan baju yang menutupi kulit, nggak boleh mendengarkan musik terlalu kencang karena harus selalu aware sama sekitar, belum lagi harus bawa alat keamanan lainnya. Beda banget sama para pelari pria yang nggak perlu ngerasa was-was atau insecure sama tindak kejahatan di jalanan yang sering dialami oleh wanita.”

yunisa editor all things hair berbicara kemerdekaan
Yunisa, Editor All Things Hair. (Foto: Pribadi)

Stephanie menambahkan bahwa rasa minder, pikiran negatif, dan pola pikir yang terpaku memikirkan ‘apa kata orang’. “Tanpa sadar, hal ini mempengaruhi cara pengambilan keputusan dalam hidup. Cenderung play safe dan berkutat di lingkaran yang itu-itu saja.”

Edukasi pada Pria dan Wanita.

Meskipun untuk mencapai kondisi ideal dimana semua pria dan wanita bisa merasa merdeka secara equal masih jauh, tapi bukan berarti hal ini tidak mungkin.

“Dari tantangan yang aku hadapi, aku merasa tubuh perempuan malah jadi suatu kungkungan untuk aku. Kita butuh edukasi yang cukup untuk pria dan wanita untuk menghargai tubuh dan tahu boundaries. Karena pada akhirnya, kemerdekaan dan rasa aman itu tanggungjawab bersama, jangan berhenti pada hak untuk merasa bebas pada diri sendiri, tapi kita juga perlu ‘membebaskan’ orang lain juga.” ungkap Yunisa.

Keluar dari ‘Label’, Lepas dari Stigma.

Ingat bahwa keberadaan kamu harus bisa merepresentasikan kualitas dirimu yang seutuhnya. You should define yourself, do not let the world defines you! Menurut Nadya, cara terbaik untuk merasa merdeka adalah keleluasaan kamu untuk memilih peran.

wanita dari berbagai latar belakang dalam sebuah grup
Female empowerment dimulai dari sesama wanita. (Foto: Shutterstock)

I believe people have many roles in life; aku sebagai anak, sebagai sahabat, sebagai wanita, sebagai karyawan, sebagai pengguna busway, dan lain-lain. Ada ‘aturan’ yang membuat kita harus menempatkan diri pada beberapa posisi. Ini kembali lagi ke makna kebebasan bagiku. Merdeka di sini lebih ke keleluasaan aku untuk bebas memilih ‘peran’ dan bukan karena terpaksa. Kalau harus melakukan sesuatu atau menjadi seseorang hanya karena ‘itu memang takdirnya wanita’ (misalnya), sorry but no. Tanggungjawab beda dengan label yang itu.”

Nadya menambahkan bahwa menurutnya wanita bebas berperan jadi wanita karier, jadi istri, jadi ibu, dan jadi anak sekaligus. Selama peran itu dijalani dengan baik tanpa ada stiker stigma yang tak relevan, itulah kondisi yang ideal.

Mulai dari Diri Sendiri.

Menurut Silmia, merdeka itu dimulai dari diri sendiri, tentu dengan memerdekakan pikiran dari pikiran buruk tentang orang lain.

wanita dalam kelompok sedang mengobrol
Mulai dari diri sendiri yuk! (Foto: Shutterstock)

“Aku harap, kita bisa menjadi manusia yang lebih menghargai dan mengapresiasi orang lain, terutama sesama wanita. Kita bisa mulai dari hal kecil kok, misalnya dengan memberikan pujian tulus kepada teman yang pintar masak atau yang berambut indah. Atau, kita bisa berhenti mencibir orang yang sering selfie atau sering curhat di medsos. Kita nggak pernah tahu kan, apa yang sedang mereka perjuangkan di balik postingannya? Sekecil apapun dukungan dari kita, mungkin akan sangat berarti untuk mereka.“

Yes, semua dimulai dari isi kepala. “Jujur, sampai saat ini masih belum tahu persis cara memerdekakan diri dari pikiran negatif yang ada di kepala. Namun berusaha untuk ada di lingkungan yang positif dan suportif bisa jadi awal yang baik untuk memperbaiki mindset. Choose your inner circle wisely!” tambah Stephanie.

Ekspresikan Dirimu Sebebasnya.

Bagaimana sih cara kamu mengekspresikan diri? Do things because you want it, not because other people expect you to do it.

“Contoh sederhananya seperti ini. Aku nggak bisa masak dan belum ada keinginan untuk belajar masak. Aku lebih suka bantu ayah ‘nukang’ dan memperbaiki genting ketimbang ke dapur untuk masak gulai. Apakah itu berarti aku gagal sebagai wanita?

Temanku dari dulu tidak suka berambut panjang dan selalu memilih pixie cut selama bertahun-tahun. Apakah itu dianggap tidak feminin dan dia tidak punya kualitas yang cukup sebagai wanita?”, ujar Nadya.

“Kalo aku berekspresi melalui tulisan dan gambar. Aku senang memajang hasil fotoku di Instagram dan tulisanku di blog. Meski jujur, seringkali aku harus berhati-hati dalam memilih kata atau foto yang aku posting. Apalagi aku berhijab, ada penilaian subjektif yang mengharuskan wanita berhijab harus terlihat baik, suci, dan lembut. Semoga ke depannya, tak ada lagi belenggu untuk berekspresi dan berkreasi ya. Kita semua bisa jadi diri sendiri, dan berbahagia tanpa approval orang lain.”, jawab Silmia.

Merdeka dari kacamata wanita
Bersama-sama bebaskan diri dari stigma! (Foto: Shutterstock)

Nah, Stephanie dan Yunisa menekankan kemerdekaan pada pilihan pribadi. “I keep buying black clothes, meskipun selalu dikomplain banyak orang karena 90% outfitku hitam semua. Black is my happy color and I love it!”

“Kalau aku (di social media) biasanya sering posting foto post-workout atau pamer makeup dan gaya rambut di hari itu sebagai bentuk self-appreciation.” Tambah Yunisa.

Ada 4 cara untuk merayakan kemerdekaan dan kebebasanmu lewat rambut. Para editor membagikan tipsnya di sini!

Merawat Rambut.

“Menurutku, asalkan rambut sehat, bebas rontok, dan nggak gatal, aku sudah merasa sangat bebas. Karena kalau aku nyaman dengan rambut dan kulit kepalaku, berhijab jadi terasa lebih mudah.” Jawab Silmia.

Coba mulai dari hal sederhana seperti rajin creambath. Kamu bisa creambath di rumah dengan menggunakan Dove Hair Growth Ritual Creambath dengan formula lengkap untuk merawat rambut rontok. Baunya juga menenangkan, loh!

Mencoba Potongan Rambut Pendek atau Sedang.

Nadya berpendapat bahwa gaya rambut pendek apapun bisa membebaskanmu. “Menurutku, memotong rambut menjadi pendek bukan cuma mentok di urusan style atau trend. It’s like letting something go (terutama ujung rambut kering dan bercabang, haha).”

“Gaya rambut yang menurutku secara pribadi bisa membebaskan adalah long bob. Karena cukup low maintenance, tapi nggak terlalu pendek juga untuk coba eksperimen tengan berbagai gaya rambut. Bebas deh pokoknya, mau diapain aja!”, tambah Yunisa.

Mencoba Poni.

Selain potong rambut dengan model yang belum pernah kamu coba sebelumnya, menurut Stephanie kamu bisa mencoba poni rata!

Stephanie editor all things hair berbicara kemerdekaan
Stephanie, Editor All Things Hair. (Foto: Pribadi)

“Biar kata pipi chubby dan nggak cocok punya poni rata, this month I really don’t care. Setelah belasan tahun belindung di balik poni samping, akhirnya aku berani keluar dari zona nyaman dengan memotong poni jadi rata!

Sebagian bilang bagus, sebagian bilang mukaku jadi mirip anak-anak. But who cares? Yang penting hati happy dan puas karena akhirnya berani mencoba gaya rambut yang sebenarnya selalu ingin kucoba.”

Ubah Warna Rambut.

Saran tambahan dari Nadya adalah mengganti warna rambut! “Sama halnya dengan potongan rambut, warna bisa menjadi sesuatu yang eksperimental dan bisa jadi sarana untuk liberating yourself. Kalau nanti warnanya nggak cocok, ya nggak apa-apa. Yang penting rasa ingin ingin mencobanya sudah terpuaskan.

Nah, biar warnanya nggak gagal, baca tipsnya di All Things Hair! Jangan lupa siapkan shampoo dan conditioner khusus rambut diwarnai seperti TRESemmé Color Radiance & Repair for Colored Hair Shampoo. Plant placenta extract di dalamnya bisa merawat batang rambut yang diwarnai sekaligus menjaga warnanya tetap awet. Lanjutkan perawatan rambutmu dengan TRESemmé Color Radiance & Repair for Colored Hair Conditionersupaya rambut tetap lembut dan tidak mudah patah.

Artikel selanjutnya