Cancer Survivor Vania Yolanda: It’s Okay Untuk Nggak Punya Rambut!

Sebuah wawancara dengan penyintas kanker mengenai perjuangan melawan kanker dan self-acceptance!

Saat didiagnosa terkena kanker limfoma Hodgkin pada usia 21 tahun, dunia seolah berhenti berputar bagi Vania Yolanda. Kejadian tak terduga ini mengharuskan wanita kelahiran 23 Oktober 1997 ini menjalani kemoterapi di Malaysia.

Delapan kali sesi kemoterapi pun dilalui. Dalam prosesnya, Vania harus berbesar hati menyaksikan rambut panjangnya rontok berguguran sebagai efek samping kemoterapi.

Pasrah dan menerima kenyataan merupakan dua hal berbeda. Di usia yang sangat muda, pastinya nggak mudah menerima fakta bahwa ada sel kanker yang berkembang di tubuh kamu. But amazingly, Vania sukses menghadapinya dengan positif. Bahkan, dengan terbuka bercerita di media sosial.

Untuk memperingati Cancer Survivor Month Sedunia, Tim All Things Hair berbincang bersama Vania Yolanda seputar perjalanannya melawan sel kanker. Cancer survivor yang satu ini juga bercerita soal proses jatuh bangun untuk mencintai dan menerima diri apa adanya.

Penasaran dengan obrolan kami? Simak artikel ini sampai habis, ya!

vania yolanda cancer survivor
Vania dan teman sesama pejuang kankernya saat menjalani sesi kemoterapi di Malaysia. (Foto: @vaniaayolanda/Instagram)

Pada 2018, kamu divonis mengidap kanker limfoma stadium 2. Boleh ceritakan lebih detail?

Jadi, limfoma adalah kanker kelenjar getah bening yang menyerang kelenjar getah bening di tubuh kita, masih satu ‘keluarga’ dengan kanker darah. Tapi banyak orang yang nggak tahu dan menyangka kalau kanker darah itu hanya leukimia. Faktanya ada limfoma dan myeloma juga.

Gejala awalnya aku sesak nafas, tapi rasanya beda dari yang biasa. Dada terasa terhimpit, karena aku bengkak besar di area dada, kira-kira seukuran 20cm. Parah banget, karena saat malam aku sering keringatan dan demam.

Kamu harus menjalani kemoterapi sebanyak delapan kali sampai dinyatakan sembuh oleh dokter. Seperti apa rasanya menjalani kemoterapi?

Aku kemoterapi normal cycle sebanyak 6 kali, dapat ekstra 2 kali. Sebenarnya nggak dinyatakan sembuh juga sih, karena sesungguhnya kanker lama sembuhnya.

Sehabis kemo nggak langsung sembuh. Harus cek berkala hingga beberapa tahun ke depan, baru bisa dinyatakan sembuh. Aku sendiri sekarang ada di masa remisi.

Soal menyeramkan atau tidak, persepsi setiap orang berbeda-beda. Orang membayangkan kemoterapi harus masuk ke alat yang super besar. Tapi yang aku alami berbeda.

Kemoterapi cuma diinfus, namun rasanya sakit sekali. Sesakit itu, dan efek sampingnya ke tubuh benar-benar tidak enak. Isi infusnya adalah cairan sitotoksik, obatnya keras sampai merusak pembuluh darah aku. Jadi beda dari infus biasanya.

Selain perubahan pola hidup, apa perubahan terbesar yang kamu alami secara pribadi?

Cancer really changed me as a person. Bukannya aku minder berteman dengan orang lain, tapi situasi dan kondisi bikin aku nggak bisa jadi diriku yang dulu. Life after cancer benar-benar berubah 180 derajat.

I lose my self confidence. Sempat jadi malas bertemu orang, malas pergi-pergi, malas bersosialisasi. Karena sehabis kemo badan rasanya super capek, aku maunya cuma di rumah saja.

Aku tidak dijauhi teman-teman, tapi aku sedikit menjaga jarak karena sadar tubuhku nggak sekuat dulu. Gampang tertular penyakit atau virus dari orang lain. Misalnya orang flu, aku bisa tertular karena imun tubuhnya tidak sekuat dulu.

vania yolanda cancer survivor
Momen saat Vania pertama kali memotong rambut panjangnya. (Foto: @vaniaayolanda/Instagram)

Where does your strength come from?

From God, I guess. Aku bisa terima semuanya, aku bisa berdamai melewati semuanya. Support dari keluarga luar biasa, sangat membantu. Aku dikelilingi orang yang sayang dan cinta sama aku, sangat berarti.

Soal share di media sosial, awalnya aku nggak langsung open up. Dalam prosesnya aku berpikir kalau orang lain perlu tahu. Dan ternyata lingkunganku sangat supportive, in some way aku merasa dapat suntikan semangat yang luar biasa dari teman-teman di media sosial. Respons positif itu sangat menguatkan dan membantu.

Saat terkena ujian, proses emosional yang dilewati setiap orang pasti berbeda. Keadaan emosional seperti apa yang Vania alami?

Aku sendiri lebih merasa kecewa. Bertanya why this thing happened to me. Padahal aku termasuk sehat, makan masih terjaga dan bersih, tidak merokok, dan tidak minum alkohol. Tapi tidak sampai menyalahkan atau marah sama Tuhan, ya.

Momen apa yang jadi titik terberat dalam hidup Vania?

vania yolanda cancer survivor
Vania Yolanda dengan rambut barunya. Sesekali tampil beda mengenakan wig berwarna silver, cantik! (Foto: @vaniaayolanda/Instagram)

Jujur, soal kanker ada banyak banget titik beratnya. Mulai dari divonis kanker saja sudah terasa berat. Tapi dari seluruh proses pengobatan yang dilewati, yang terasa paling berat adalah momen saat aku dikabari mendapat tambahan kemo 2 kali lagi. Ibaratnya keluar biaya lagi, menderita lagi.

Jadi awalnya cycle kemo aku ada 6 kali, belakangan baru dapat tambahan 2 lagi. Saat pertama selesai kemoterapi 6 kali, aku rasanya senang sekali. Saat itu aku pikir sudah selesai, karena aku sehat dan respon tubuhnya positif.

Aku dengan pedenya sudah bikin rencana mau ngapain saja ke depannya. Tapi ternyata hasil scan nggak bagus, karena masih ada pembengkakan.

Dokter melepas aku dengan penuh ketidakpastian, itu yang bikin berat dan rasanya dunia mau runtuh. Dokter bilang kalau prosesnya bakal sulit dan aku belum tentu bisa menjalani radiasi karena posisinya dekat jantung. Bahkan dokter bilang kalau aku nggak bisa tambah kemo karena maksimal cuma 6!

Aku jadi berpikir sendiri. Masa tidak ada cara yang bisa bikin aku sembuh? Masa sesingkat itu? Sungguh berat dan bikin galau, karena aku saat itu aku sudah berekspektasi tinggi untuk sembuh.

Sampai akhirnya aku pindah RS dan dipertemukan dokter baru yang super baik. Dia menjelaskan dengan baik dan decide kalau aku perlu tambah kemo 2 kali lagi. Rasanya seperti jalan Tuhan, karena semua pintu dibukakan dan berjalan mulus.

Bagaimana perasaan Vania saat mencukur rambut pertama kali?

Rambut juga jadi salah satu momen terberat buat aku! Bahkan saat diberitahu “Vania harus kemo”, rasanya lebih sedih membayangkan efek kehilangan rambutnya ketimbang kemo itu sendiri.

Saat menyadari efek samping kemo bikin botak, aku langsung panik, hahaha. Awalnya aku masih mencoba positive thinking, berpikir “Nggak semua kemo bikin rambut rontok”. Karena pada dasarnya memang nggak semua obat kemo bikin rontok, tergantung jenis kankernya.

Saat itu aku rambutnya panjang, langsung aku potong pendek dengan harapan rambutnya lebih ringan, nggak menampung beban terlalu berat dan nggak rontok. Tapi ternyata tidak, karena rambutku tetap rontok.

Rasanya berat banget, tapi aku ngotot nggak mau dicukur. Aku mau menikmati setiap proses jatuhnya helaian rambut karena seberharga itu untuk aku. Sampai di titik aku mencabuti rambutku satu-satu dari kepala. Tapi ada beberapa rambut yang nggak bisa rontok dan masih bertahan di kepala. Bentuknya jadi jelek banget, akhirnya barulah kepalaku dicukur. Itupun rasanya sedih sekali.

Sekarang rambut Vania udah tumbuh lagi. Apakah ada perubahan? Do you like your new hair?

Vania Yolanda dengan rambut pixie
Vania Yolanda dengan rambut barunya. (Foto: Vania Yolanda)

Rambut aku berubah jadi ikal bergelombang sekarang, padahal tadinya lurus banget. Kalau dibilang suka yang mana, jelas lebih suka rambut yang dulu, ya.

Tapi aku bersyukur masih punya rambut. Ketimbang tidak sama sekali? Hehe.

Orang lain banyak cerita mengalami hal serupa, rambut yang tadinya lurus jadi keriting. Rambut yang awalnya keriting jadi lurus. Yang tadinya hitam berubah jadi pirang.

Tapi ada juga beberapa teman aku sesama cancer survivor, ada yang rambutnya lurus tapi tumbuhnya sama seperti dulu. Jadi di setiap orang rasanya akan berbeda hasilnya.

Pasca kanker, bagaimana cara Vania merawat rambut?

Sekarang aku selalu keramas pakai shampoo bayi. Aku sendiri yang mau pakai, karena rasanya lebih gentle saja, sih. Dokter juga nggak ada membatasi apapun, cukup jalani hidup seperti biasa, physically active. Lakukan kegiatan seperti dulu.

How do you embrace ‘the new you’?

Embrace the new me rasanya susah banget. Rasanya sampai sekarang pun, masih terus belajar. Masih ada di tahap mencintai diri dengan lebih baik. Untuk menambah self confidence lagi, Karena aku berubah 180 derajat dari segi fisik dan mental.

Aku yang tadinya ketemu orang rasanya senang ngobrol dan bercerita, berubah jadi orang yang malas banget ketemu orang. Bahkan nggak mau difoto.

Yang aku lakukan untuk embrace diri sendiri: harus self acceptance dulu. Harus bisa terima keadaan diri yang sekarang. I should and need to love myself more. Dan secara personal, proses belajar ini juga tidak gampang dan berat sekali di awal.

Ada tips penyemangat untuk cancer survivor wanita agar tetap percaya diri saat rambut mulai berguguran saat kemoterapi?

You are not alone! Untuk para cancer survivor lainnya, aku pernah ada di fase itu, di tahap itu.

Dan untuk kalian di luar sana yang mengalami hal serupa, itu wajar dan normal banget. It’s okay untuk nggak punya rambut. Karena ada banyak orang di luar sana yang paham apa yang kamu rasakan. Love yourself even more, karena itu adalah kunci yang paling bagus.

Aku pernah punya pengalaman kurang enak soal hal ini.  Dulu saat aku baru dicukur, aku jalan sore di depan rumah tanpa topi. Ada satu anak yang melihat aku sambil tertawa. Awalnya kupikir wajar, tak ada prasangka buruk karena semua orang bebas tertawa sesuka hati.

Tapi saat aku lewat lagi, dia malah pegang smartphone dan merekam aku sambil senyam-senyum dan tertawa. Bayangkan bagaimana rasanya!

Saat itu aku merasa cukup terpukul dan langsung berlari pulang. Untungnya nggak nangis sih, hehe. Hati ini rasanya kesal sekali, tapi aku paham mungkin dia merasa aneh melihat ada cewek berkepala botak licin.

Hal itu membekas banget sampai sekarang. Padahal pada mulanya, aku sendiri merasa it’s fine untuk botak dan nggak punya rambut. Tapi sayangnya orang lain nggak begitu.

Jalan di mal sering dilihatin. Anak kecil bahkan sering nyeletuk “Ini cewek apa cowok, sih? Kok nggak ada rambut?”. Itu juga yang jadi alasan aku nggak pede menunjukkan kepala botak ke orang-orang, haha.

Apa makna ‘bahagia’ bagi Vania saat ini?

Vania Yolanda saat wisuda
Vania Yolanda saat berhasil menyelesaikan kemoterapi dan mengenakan toga wisuda. (Foto: @vaniaayolanda/Instagram)

Sesimpel aku bisa bernapas sampai hari ini, itu sudah bahagia banget. Amazing grace. Aku bisa menjalani kegiatan seperti biasa, bekerja lagi, doing what I love.

Ada bersama keluarga dan teman-teman. Pelan-pelan back to normal, itu rasanya sudah bahagia sekali. Bisa makan enak juga rasanya bahagia, meski nggak boleh sering-sering, hehe.

Pesan apa yang ingin Vania sampaikan kepada wanita sesama cancer survivor?

Semangat! Jangan putus asa. Jangan hilang harapan, there’s still a hope. Kalian nggak sendiri, ada banyak orang yang berjuang bareng kalian.

Jangan stres, karena yang menyembuhkan kamu adalah semangatmu sendiri. Kalau nggak semangat fighting cancer dan kemoterapi akan terasa berat banget. Semangat!

Artikel selanjutnya